Postingan

Dunia Hari Ini Sibuk Sekali

​Dunia hari ini sibuk sekali. Terasa begitu banyak hal penting. Begitu banyak yang harus difokuskan. Begitu banyak hal yang perlu perhatian. Dunia hari  ini sibuk sekali. Aku seperti berjalan terlalu lambat. Terlalu hening. Terlalu sepi. Terlalu sunyi. Dunia hari ini sibuk sekali. Membuatku merasa selai tertinggal. Jauh.  Dunia hari ini sibuk sekali. Tergopoh aku mengejar, tergopoh pula ia menjauh dan main menjauh. Dunia hari ini sibuk sekali. Membiarkan aku terengah-engah. Menyerah. Dunia hari ini…  Sibuk sekali… Aku mencoba berenang di dalam semua kesbukannya, mencari celah untuk bernafas sejenak agar tak kehilangan oksigen dan dapat melanjutkan perjalanan. Juga agar aku tak tenggelam. Dunia hari ini sibuk sekali. Hingga lelah terasa terus dan makin menggayuti sendi dan hati.. Sibuk sekali.. Wahai Kau Yang Punya Dunia… apa yang sebenarnya Kau inginkan dariku dalam menghadapi dunia dengan segala kesibukannya ini? Apakah sudah tepat aku dengan segala lakuku? Apakah semuak...

Saat Kamu Banyak Pikiran

​Kok dia begini. Kok dia begitu. Kenapa aku diginiin? Kenapa aku digituin? Ap motif dia? Kok aneh sih? Harus gimana baiknya? Salah ga sih? Yang bener gimana?  Terus aja penuh kepala dengan berbagai lintasan pikiran.. Berhentilah. Ambil alQur’an mu, bacalah. Yang lebih pantas berdantuman berulang kali dalam pikir dan hatimu, cuma ini. Jangan kasih ruang buat yang lain. Yuk bisa yuk!

Saat Hati Belajar Pulang dari Hiruk Pikuk Layar

Saat Hati Belajar Pulang dari Hiruk Pikuk Layar Ada masa di mana aku begitu tenggelam dalam dunia yang terang oleh layar, tapi gelap oleh makna. Jemariku bergerak cepat, berpindah dari satu konten ke konten lain, tanpa pernah benar-benar hadir di dalam hidupku sendiri. Aku menyebutnya “hiburan”, padahal mungkin itu pelarian yang dibungkus dopamine . Sampai suatu hari, aku berhenti. Bukan karena bosan, tapi karena ingin tahu: seperti apa rasanya kalau aku tak lagi mencari tenang di luar, melainkan di dalam? Lalu aku mulai menata kembali hari-hariku dengan Al-Qur’an. Hening yang Tak Kosong Awalnya aneh. Waktu-waktu yang dulu penuh notifikasi kini lengang. Tak ada yang memanggil selain adzan, tak ada suara selain lantunan ayat. Tapi di keheningan itu, aku justru menemukan sesuatu yang jauh lebih hidup: rasa teduh yang tidak menuntut perhatian, hanya kehadiran . اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا Allah menurunkan perkataan yang paling baik, yaitu Al-Qur’an QS. Az-Z...

Musibah: Balasan, Kasih, atau Teguran?

Musibah: Balasan, Kasih, atau Teguran? وَمَاۤ أَصَـٰبَكُم مِّن مُّصِیبَةࣲ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَیۡدِیكُمۡ وَیَعۡفُوا۟ عَن كَثِیرࣲ “Dan apa pun musibah yang menimpa kalian, maka itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Dia memaafkan banyak (dari kesalahan kalian).” (QS. Asy-Syūrā: 30) 1. Saat Musibah Mengetuk Tidak ada satu pun manusia yang bisa memilih jenis ujian yang akan datang kepadanya. Kita tidak pernah mendaftar untuk kehilangan, tidak pernah menandatangani kesediaan untuk kecewa, dan tak pernah mengajukan diri untuk patah. Namun, pada waktunya, hidup menyeret kita masuk ke dalam ruang perenungan yang paling jujur: ruang di mana semua yang kita sandarkan ternyata rapuh, dan semua yang kita abaikan ternyata paling berarti. Ayat ini turun dalam konteks hujan yang Allah turunkan setelah masa keputusasaan panjang . Ibn ‘Āsyūr menjelaskan bahwa kaum Quraisy pernah ditimpa kemarau dan kelaparan hebat , sebagai akibat dari kesombongan dan gangguan mereka terhadap...

Sebuah Alasan tentang Kenapa Dilarang dan Kenapa Disuruh

(Refleksi tentang kasih sayang Allah di balik setiap perintah dan larangan-Nya) Hari ini Allah mengajarkanku sesuatu. Bukan lewat ayat yang kubaca, bukan pula dari ceramah atau buku yang kubuka—melainkan lewat keseharian sederhana bersama anak-anakku. Lewat satu peristiwa kecil di rumah, yang mungkin tampak sepele, tapi justru di sanalah Allah menyisipkan hikmah yang begitu dalam. 1. Sebuah Permainan yang Tak Biasa Sore itu, Raihan, anakku yang berusia sembilan tahun, sedang bermain dengan sebuah kardus besar. Ia tampak sangat antusias, seolah menemukan dunia baru dalam kardus itu. Tangannya memegang garpu besi, dan ia mulai menusuk-nusuk bagian permukaannya dengan semangat. Bagi anak-anak, mungkin itu hanyalah permainan yang seru. Tapi dari sudut pandangku sebagai seorang ibu, yang langsung bisa membayangkan segala risiko—itu berbahaya. Lebih-lebih lagi, adiknya yang baru dua tahun sedang memperhatikan dengan mata berbinar. Aku tahu sebentar lagi ia pasti akan meniru. Dan di situlah n...

Luka dan Pilihan

Apakah semua orang sedang bertahan dalam kemalangan hidupnya? Luka-luka yang tak pernah diundang, mungkinkah itu sebabnya? Tak diminta tapi hadir. Sakit datang tanpa permisi. Perih yang baru dirasakan oleh seorang anak yang bahkan belum tahu apa-apa… Kadang aku ingin melihat manusia dengan mata kasih. Dia keras karena jalan hidupnya memang keras. Dia egois karena kisahnya terlalu berat. Dia penuh obsesi karena masa kecilnya teramat tak mudah. Bolehkah aku begitu? Tapi aku juga tahu, mata kasih bukan berarti membenarkan yang salah. Salah tetaplah salah. Dan kebenaran hanya satu: apa yang ada di sisi Allah. Meski begitu, aku berdoa semoga Allah menyembuhkan luka-luka mereka—sebagaimana Dia juga masih menyembuhkan lukaku. Apakah itu pandangan yang kolot? Jika keyakinanku tetap tak bisa menerima ada yang rela melepas hijab dengan alasan luka demi luka, apakah aku terlalu tidak empati? Tapi kalau aku membenarkan yang salah, bukankah itu juga bukan bentuk kasih sayang? Aku ...

Terseret Derasnya Arus Informasi

Terseret Derasnya Informasi Pernah nggak sih, merasa kepala penuh banget? Rasanya setiap hari ada aja informasi baru yang datang. Dari medsos, dari orang sekitar, dari bacaan. Semuanya terdengar penting. Awalnya kita udah niat, “Aku mau perbaiki ini dalam diriku.” Tapi sebelum sempat mulai, muncul lagi info lain yang seakan lebih mendesak. Kita pun sibuk ngikutin yang itu. Lalu, belum selesai juga, datang lagi informasi lain. Begitu terus sampai akhirnya kita lupa sama tekad awal kita sendiri. Dan kalau dipikir-pikir, kita kayak orang yang jalan tapi muter-muter aja. Sibuk gerak, tapi nggak sampai ke tujuan. Lelah dengan Arus yang Nggak Pernah Berhenti Memang sih, gampang banget sekarang dapat info. Tapi gampangnya itu justru bisa jadi jebakan. Kalau nggak punya filter, semua info yang kita telan mentah-mentah malah bikin kita makin bingung. Bukannya tercerahkan, malah overthinking. Hati jadi capek. Kepala makin penuh. Kita merasa belajar banyak, tapi ternyata nggak ada yang benar-bena...

Tak Tahu Apapun

Makin kuselami, makin kudalami, makin lama kucari, makin lah aku tak tahu apapun. Pertanyaan malah semakin banyak. Tercerahkan sekaligus semakin penasaran. Bagaimana cara memahami keseluruhan? Batinku. Sepertinya memang tidak bisa. Maka terus kutempuh berbagai perjalanan. Kuterus cari ke mana-mana dan ke siapa-siapa. Barangkali akan makin mencerahkan. Barangkali akan semakin lengkap puzzle demi puzzle itu tersusun. Meski belum utuh, aku tetap tahu bahwa akhirnya ini semua akan ke mana dan menjadi apa. Tapi, pasti akan berbeda saat bisa mengenali keutuhannya dengan paham setiap bagian mesti ada di mana kan? Begitulah. Apapun.. aku bahagia dengan semua proses ini. Tanda aku belajar. Tanda aku berusaha. Tanda aku ada dalam perjuangan ini. Terimakasih atas kesempatan ini..

Beranjak Dari Satu Kebaikan Kepada Kebaikan Lainnya

Dalam menapai jalan Al-Abraar.. Kau ingin kebaikanmu meluas seluas-luasnya. Tapi kau tidak akan bisa mencapainya, jika ibadah pribadimu pun masih terlalu banyak yang harus ditambal sulam agar layak, kan? Fokuslah perbaikan dari dalam itu. Beranjaklah dari satu kebaikan kepada kebaikan berikutnya. Bukan malah berhenti dan merasa puas dan cukup dengan satu kebaikan. Lalu berhenti melakukannya lagi dan lagi. Kau serius kan? Ayo kita seriusi ini menjadi projek perbaikan sebelum 40tahun ❤️

Aku Masih Belajar

Aku masih berada dalam proses belajar yang panjang—dan mungkin memang tak akan pernah benar-benar usai. Karena sejatinya, sepanjang hidup ini adalah ruang belajar yang tiada henti. Mengamalkan ilmu yang sudah kita ketahui—itulah yang paling penting! Aku menyadari bahwa orang-orang yang terus tumbuh adalah mereka yang tak lelah belajar. Maka jadilah pembelajar sejati. Serap setiap hikmah yang disodorkan oleh kehidupan. Bersikap baiklah. Bersabarlah. Sebab segalanya butuh waktu, tidak instan. Dan jika suatu saat, dalam peran yang sedang kau jalani terasa berat—hingga kau lupa ilmu mana yang seharusnya diterapkan—tenanglah terlebih dahulu. Amalkan apa yang sudah kau tahu. Tak perlu langsung mengurai teori-teori rumit. Mulailah dari yang paling sederhana. Perbaiki yang tak tampak—yakni hatimu. Sebab dari sanalah segala perbaikan bermula. Niscaya, apa yang tampak pun perlahan akan membaik. Jangan lupa memohon kepada Allah kekuatan dan kemampuan untuk mengamalkan ilmu—dari hal yang tamp...

Malam Ini, Aku Ingin Jujur

Aku mengenali proses ini. Inilah fase di mana segalanya terasa berat—namun justru sedang memperbaiki diriku. Kali ini, aku ingin bersikap lebih baik. Lebih bijak dari diriku yang dulu saat menghadapi hal serupa. Agar ketika semua ini usai, yang tertinggal hanya keindahan—tanpa luka. Apakah itu mungkin? Sebab dulu, setiap getar dalam jiwa menyisakan rasa tak pantas, tak layak, bahkan hina. Tapi kali ini… bolehkah aku berharap, bahwa semua getar ini cukup meninggalkan keindahan yang murni? Tanpa jejak rasa-rasa negatif yang semestinya tak perlu ada? Kenapa proses ini harus terasa seberat ini? Rasanya seperti bab dalam hidup yang ingin ku-skip saja. Kalau ini sebuah buku, ingin sekali aku lompat ke halaman terakhir. Kalau ini sebuah video, aku ingin cepat-cepat tekan tombol "percepat". Tapi ini bukan buku. Bukan pula video. Ini adalah hidup. Dan aku harus menjalaninya—meski hati enggan. Sempat terlintas tawaran menggoda dalam pikiranku: Bolehkah aku kabur dari semua ini? Padahal...

Tertawan

Tertawan. Memang begitulah mestinya kita hidup—dalam kewaspadaan penuh. Seperti seorang tawanan yang sadar sepenuhnya akan kondisinya: tak leluasa, tak bebas, dan tak berhak semena-mena. Kesadaran itulah yang melahirkan ketundukan. Bukan karena lemah, tapi karena tahu diri. Hingga saat pembebasan itu datang—oleh Dia yang Maha Berwenang.

Dari Aku yang Terus MencariMu

Di antara berbagai gemuruh yang hadir. Aku mencariMu. Menyebut namaNu. Berharap agar yang paling tinggi di atas segalanya tetaplah Engkau. Di antara banyaknya dentuman dalam hati. Aku merapalkan asmaMu. Berharap agar setiap harap, cemas, senang, sedih dan semua rasa itu selalu tersandar hanya padaMu saja. Karena padaMu, ada keabadian yang teramat aku inginkan. Yang jika segala hal tersambung pada taliMu itu maka semua hal akan menjadi baik dan selalu baik. Daya yang ada padaku, milikMu. Kemampuan yang ada padaku, atas kehendakMu. Maka kutitip apa yang ada di luar kendaliku ya Allah… Aku titip pula diriku.. semuaku.. Sampai Kau katakan “Ya” padaku, aku akan berusaha semaksimalku. aku ridha Engkau Tuhanku…maka ridhailah pula aku…

Syawal dan Janji yang Kita Simpan di Dalam Diri

Ramadan telah pergi. Ia tidak pamit. Tidak pula menoleh. Hanya meninggalkan jejak harumnya dalam ruh—jika kita benar-benar hadir saat ia datang. Kini Syawal menyapa. Bukan dengan gegap gempita pesta, melainkan dengan sebuah pertanyaan yang sunyi: “Masihkah kau ingat siapa dirimu saat Ramadan menyentuh hatimu?” Syawal bukan jeda. Bukan tempat kembali bersantai dari perjuangan ruhani. Ia justru pintu masuk, ke sebuah medan baru: konsistensi setelah intensitas. Tentang Ramadan: Mengapa Allah Memilihnya Allah menyebut Ramadan sebagai bulan yang mulia, karena: “ Di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan dari petunjuk itu, dan pembeda antara yang benar dan batil.” (QS. Al-Baqarah: 185) Ramadan bukan bulan lapar. Bukan sekadar puasa. Tapi bulan turunnya cahaya pertama dari langit ke dada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibnu Asyur menuliskan: turunnya Al-Qur’an adalah alasan mengapa waktu menjadi mulia. Bukan karena malamnya, bukan karena hari-harin...

Hari Raya, Luka Lama dan Doa

Aku pikir aku sudah sembuh. Ternyata belum… Aku pikir aku sudah bisa memaafkan. Ternyata belum sepenuhnya… Lalu aku menjadi teramat takut salah. Terlalu berusaha menjaga hati orang lain, hingga tanpa sadar menyakiti diriku sendiri. Aku takut dibenci. Padahal batinku sudah kurang—penuh luka. Dan bisa tiba-tiba ambruk begitu saja. Seringkali aku merasa lemas, lelah, sakit kepala. Kupikir yang sakit adalah tubuhku, ternyata… yang terluka adalah ruhku. Luka itu masih ada. Hancur. Berantakan. Dan aku tak menyadarinya sepenuhnya. Aku hanya mengalihkan duka, mengobatinya semampuku… meski belum kunjung sembuh. Maafkan aku, ya Allah… Dalam alam bawah sadarku, momen takbir menggema membesarkan nama-Mu di hari raya, adalah juga momen aku patah hati… pada banyak waktu, dan pada orang-orang yang semestinya dekat, yang seharusnya merangkulku. Tapi justru saat gema takbir itu terdengar, aku sadar: Tak ada sandaran lain bagiku selain Engkau. Tak bisa kubersandar pada dunia, pada manusia… Hanya pada-Mu...

30 Ramadhan 1446H

Lebaran sudah datang lebih dulu di Makkah. Indonesia baru sehari setelahnya akan berlebaran. Hari baru saja berganti 3 menit lalu. Jadi bagiku ini adalah hari ke 30 Ramadhan. Ditengah tidur lelap tetiba suami menelfon, mengabarkan bahwa di sana sudah masuk hitungan 1 Syawal. Pengalaman pertama kami Lebaran Idul Fitri terpisah. Wajahnya menunjukkan kesedihan saat video call tadi. Dia memang berhati lembut. Juga penuh kasih sayang. Aku ya rindu juga, sedih juga, tapi juga bahagia untuknya sekaligus, bisa dapat kehormatan Itikaf 10 terakhir Ramadhan di Masjidil Haram itu luar biasa kan. Dan dia yang Allah berikan kesempatan terhormat itu. Aku bahagia untuknya. Sebenarnya sedihnya lebih dari sekedar Lebaran tanpa keluarga, tapi karena Ramadhan yang sudah berlalu. Atau ya memang campur aduk perasaan antara keduanya itu. Dalam panggilan telfon ya dia juga sempat menceritakan tentang tadabburnya di Quran surat Al-Baqarah ayat 66. Dalam kondisi setengah sadar aku mendengarnya membahas sekilas ...

Agar Kau Tak Kecewa

Hubungan yang terjalin saat kau berusaha rutin membaca Al-Qur’an, itu adalah hadiah. Saat ia menjelma menjadi hati yang semakin indah dan akhlak yang semakin baik, pastikan bahwa muara akhirnya tetap untuk Allah, pada Allah dan karena Allah saja. Kalau niat niat itu mulai melenceng, pastikan kau kemudikan lagi kembali pada tujuan satu-satunya. Agar tidak ada harap, kecewa, tujuan, selainnya. Kita sudah sama-sama memahami ini. Mari bertahan dalam pembuktian kesungguhan ini ya. Yang sabar. Yang kuat.

Janji yang Terlupakan

Memperhatikan pertumbuhan Abyan, anak bontot kau yang kini berusia 15 bulan. Melihat keceriaannya, dan dia yang sedang sering berceloteh dengan suara yang belum jelas, tawanya, langkah-langkah kecilnya yang belum teguh, senyumnya.. Pikiranku melayang.. Dia dan masa kecilnya, dia yang belum mengerti apa yang dilakukannya, dan dia yang pasti akan melupakan apa yang dia lakukan saat ini saat usianya mulai bertambah. Kapan manusia mulai bisa mengingat apa yang dilakukannya? Kita yang dewasa ini terkadang hanya bisa mengingat samar kejadian yang kita lakukan di usia 2 atau 3 tahun ke bawah. Bahkan di usia 4 pun mulai sulit mengingat tapi di 4 tahun sudah mulai ada ingatan meski samar akan masa yang sudah lewat. Aku perhatikan juga anak-anakku yang beranjak dewasa… Zahroh, Raihan, Sarah.. mereka dengan kenanganku yang bahkan samar pula akan masa kecil mereka. Kalau dengan bantuan foto atau video, atau tulisan yang aku niatkan untuk mengabadikan cerita, aku baru bisa dengan mudah mengingatnya...

Saat Kau Sakit

“Aku sakit.. Hatiku sakit. Akalku sakit. Semuaku sakit.” Katamu. Tapi saat kau ditunjukkan pada obatmu, kau berpaling. Menunda. Mencari obat selainnya. Karena katamu.. ”Aku tak mengerti bagaimana dia bisa mengobati sakitku.” Keberpalingan itu semakin jauh. Jarak yang kau bangun semakin lebar. Sampai kau lupa cara untuk kembali. Tidak usah kau pikirkan soal bagaimana dia mengobati. Tugasmu hanya minum saja obatmu. Jangan ditunda. Jangan tidak diminum. Biar Allah yang turun tangan mengobatimu dengan caraNya. Tugasmu bukan di situ, serahkan saja padaNya. Tugas kita hanya lakukan, lakukan, lakukan! Al-Isra - Ayat 82 وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا The Sabiq company: Dan Kami turunkan dari Al-Qur`ān (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur`ān itu) hanya akan menambah kerugian. Penawar yang kita butuhkan bagi jiwa yang hancur berkeping ini ada...

Hidayah yang Selalu Dibutuhkan

Diminta menyampaikan taujih singkat di masjid putri pesantren Husnul Khotimah ba’da Maghrib tadi. __________________ Apakah menjadi Islam berarti sudah cukup dan tidak butuh lagi hidayah? Bahkan sehari 17 kali kita berdoa meminta hidayah. Jalan menuju kebahagiaan menjadi seperti orang-orang yang diberikan nikmat. Ini sebuah pertanda, bahwa kebutuhan kita akan hidayah adalah kebutuhan PRIMER dan UTAMA. Hidayah apa? Petunjuk untuk menyadari betapa kita dicintai sama Allah arrahman arrahim Petunjuk untuk memahami ilmu yang didapat dan akhirnya berbuah menjadi akhlak yang baik dan mudah diamalkan Petunjuk untuk bisa mengenali semua maksud Allah atas semua pembelajaran yang diinginkannya untuk kita di setiap episode kihidupan kita Karena, saat Allah ga berikan kita hidayah… Bisa jadi alquran kita hafalkan tapi hati kita ditutup erat untuk memahami makna dan kemukjizatan nya yang akan mampu mengubah diri kita jadi luar biasa. Karena, saat Allah ga berikan kita hidayah… Bisa jadi kita ada di ...