Postingan

Terseret Derasnya Arus Informasi

Terseret Derasnya Informasi Pernah nggak sih, merasa kepala penuh banget? Rasanya setiap hari ada aja informasi baru yang datang. Dari medsos, dari orang sekitar, dari bacaan. Semuanya terdengar penting. Awalnya kita udah niat, “Aku mau perbaiki ini dalam diriku.” Tapi sebelum sempat mulai, muncul lagi info lain yang seakan lebih mendesak. Kita pun sibuk ngikutin yang itu. Lalu, belum selesai juga, datang lagi informasi lain. Begitu terus sampai akhirnya kita lupa sama tekad awal kita sendiri. Dan kalau dipikir-pikir, kita kayak orang yang jalan tapi muter-muter aja. Sibuk gerak, tapi nggak sampai ke tujuan. Lelah dengan Arus yang Nggak Pernah Berhenti Memang sih, gampang banget sekarang dapat info. Tapi gampangnya itu justru bisa jadi jebakan. Kalau nggak punya filter, semua info yang kita telan mentah-mentah malah bikin kita makin bingung. Bukannya tercerahkan, malah overthinking. Hati jadi capek. Kepala makin penuh. Kita merasa belajar banyak, tapi ternyata nggak ada yang benar-bena...

Tak Tahu Apapun

Makin kuselami, makin kudalami, makin lama kucari, makin lah aku tak tahu apapun. Pertanyaan malah semakin banyak. Tercerahkan sekaligus semakin penasaran. Bagaimana cara memahami keseluruhan? Batinku. Sepertinya memang tidak bisa. Maka terus kutempuh berbagai perjalanan. Kuterus cari ke mana-mana dan ke siapa-siapa. Barangkali akan makin mencerahkan. Barangkali akan semakin lengkap puzzle demi puzzle itu tersusun. Meski belum utuh, aku tetap tahu bahwa akhirnya ini semua akan ke mana dan menjadi apa. Tapi, pasti akan berbeda saat bisa mengenali keutuhannya dengan paham setiap bagian mesti ada di mana kan? Begitulah. Apapun.. aku bahagia dengan semua proses ini. Tanda aku belajar. Tanda aku berusaha. Tanda aku ada dalam perjuangan ini. Terimakasih atas kesempatan ini..

Beranjak Dari Satu Kebaikan Kepada Kebaikan Lainnya

Dalam menapai jalan Al-Abraar.. Kau ingin kebaikanmu meluas seluas-luasnya. Tapi kau tidak akan bisa mencapainya, jika ibadah pribadimu pun masih terlalu banyak yang harus ditambal sulam agar layak, kan? Fokuslah perbaikan dari dalam itu. Beranjaklah dari satu kebaikan kepada kebaikan berikutnya. Bukan malah berhenti dan merasa puas dan cukup dengan satu kebaikan. Lalu berhenti melakukannya lagi dan lagi. Kau serius kan? Ayo kita seriusi ini menjadi projek perbaikan sebelum 40tahun ❤️

Aku Masih Belajar

Aku masih berada dalam proses belajar yang panjang—dan mungkin memang tak akan pernah benar-benar usai. Karena sejatinya, sepanjang hidup ini adalah ruang belajar yang tiada henti. Mengamalkan ilmu yang sudah kita ketahui—itulah yang paling penting! Aku menyadari bahwa orang-orang yang terus tumbuh adalah mereka yang tak lelah belajar. Maka jadilah pembelajar sejati. Serap setiap hikmah yang disodorkan oleh kehidupan. Bersikap baiklah. Bersabarlah. Sebab segalanya butuh waktu, tidak instan. Dan jika suatu saat, dalam peran yang sedang kau jalani terasa berat—hingga kau lupa ilmu mana yang seharusnya diterapkan—tenanglah terlebih dahulu. Amalkan apa yang sudah kau tahu. Tak perlu langsung mengurai teori-teori rumit. Mulailah dari yang paling sederhana. Perbaiki yang tak tampak—yakni hatimu. Sebab dari sanalah segala perbaikan bermula. Niscaya, apa yang tampak pun perlahan akan membaik. Jangan lupa memohon kepada Allah kekuatan dan kemampuan untuk mengamalkan ilmu—dari hal yang tamp...

Malam Ini, Aku Ingin Jujur

Aku mengenali proses ini. Inilah fase di mana segalanya terasa berat—namun justru sedang memperbaiki diriku. Kali ini, aku ingin bersikap lebih baik. Lebih bijak dari diriku yang dulu saat menghadapi hal serupa. Agar ketika semua ini usai, yang tertinggal hanya keindahan—tanpa luka. Apakah itu mungkin? Sebab dulu, setiap getar dalam jiwa menyisakan rasa tak pantas, tak layak, bahkan hina. Tapi kali ini… bolehkah aku berharap, bahwa semua getar ini cukup meninggalkan keindahan yang murni? Tanpa jejak rasa-rasa negatif yang semestinya tak perlu ada? Kenapa proses ini harus terasa seberat ini? Rasanya seperti bab dalam hidup yang ingin ku-skip saja. Kalau ini sebuah buku, ingin sekali aku lompat ke halaman terakhir. Kalau ini sebuah video, aku ingin cepat-cepat tekan tombol "percepat". Tapi ini bukan buku. Bukan pula video. Ini adalah hidup. Dan aku harus menjalaninya—meski hati enggan. Sempat terlintas tawaran menggoda dalam pikiranku: Bolehkah aku kabur dari semua ini? Padahal...

Tertawan

Tertawan. Memang begitulah mestinya kita hidup—dalam kewaspadaan penuh. Seperti seorang tawanan yang sadar sepenuhnya akan kondisinya: tak leluasa, tak bebas, dan tak berhak semena-mena. Kesadaran itulah yang melahirkan ketundukan. Bukan karena lemah, tapi karena tahu diri. Hingga saat pembebasan itu datang—oleh Dia yang Maha Berwenang.

Dari Aku yang Terus MencariMu

Di antara berbagai gemuruh yang hadir. Aku mencariMu. Menyebut namaNu. Berharap agar yang paling tinggi di atas segalanya tetaplah Engkau. Di antara banyaknya dentuman dalam hati. Aku merapalkan asmaMu. Berharap agar setiap harap, cemas, senang, sedih dan semua rasa itu selalu tersandar hanya padaMu saja. Karena padaMu, ada keabadian yang teramat aku inginkan. Yang jika segala hal tersambung pada taliMu itu maka semua hal akan menjadi baik dan selalu baik. Daya yang ada padaku, milikMu. Kemampuan yang ada padaku, atas kehendakMu. Maka kutitip apa yang ada di luar kendaliku ya Allah… Aku titip pula diriku.. semuaku.. Sampai Kau katakan “Ya” padaku, aku akan berusaha semaksimalku. aku ridha Engkau Tuhanku…maka ridhailah pula aku…

Syawal dan Janji yang Kita Simpan di Dalam Diri

Ramadan telah pergi. Ia tidak pamit. Tidak pula menoleh. Hanya meninggalkan jejak harumnya dalam ruh—jika kita benar-benar hadir saat ia datang. Kini Syawal menyapa. Bukan dengan gegap gempita pesta, melainkan dengan sebuah pertanyaan yang sunyi: “Masihkah kau ingat siapa dirimu saat Ramadan menyentuh hatimu?” Syawal bukan jeda. Bukan tempat kembali bersantai dari perjuangan ruhani. Ia justru pintu masuk, ke sebuah medan baru: konsistensi setelah intensitas. Tentang Ramadan: Mengapa Allah Memilihnya Allah menyebut Ramadan sebagai bulan yang mulia, karena: “ Di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan dari petunjuk itu, dan pembeda antara yang benar dan batil.” (QS. Al-Baqarah: 185) Ramadan bukan bulan lapar. Bukan sekadar puasa. Tapi bulan turunnya cahaya pertama dari langit ke dada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibnu Asyur menuliskan: turunnya Al-Qur’an adalah alasan mengapa waktu menjadi mulia. Bukan karena malamnya, bukan karena hari-harin...

Hari Raya, Luka Lama dan Doa

Aku pikir aku sudah sembuh. Ternyata belum… Aku pikir aku sudah bisa memaafkan. Ternyata belum sepenuhnya… Lalu aku menjadi teramat takut salah. Terlalu berusaha menjaga hati orang lain, hingga tanpa sadar menyakiti diriku sendiri. Aku takut dibenci. Padahal batinku sudah kurang—penuh luka. Dan bisa tiba-tiba ambruk begitu saja. Seringkali aku merasa lemas, lelah, sakit kepala. Kupikir yang sakit adalah tubuhku, ternyata… yang terluka adalah ruhku. Luka itu masih ada. Hancur. Berantakan. Dan aku tak menyadarinya sepenuhnya. Aku hanya mengalihkan duka, mengobatinya semampuku… meski belum kunjung sembuh. Maafkan aku, ya Allah… Dalam alam bawah sadarku, momen takbir menggema membesarkan nama-Mu di hari raya, adalah juga momen aku patah hati… pada banyak waktu, dan pada orang-orang yang semestinya dekat, yang seharusnya merangkulku. Tapi justru saat gema takbir itu terdengar, aku sadar: Tak ada sandaran lain bagiku selain Engkau. Tak bisa kubersandar pada dunia, pada manusia… Hanya pada-Mu...

30 Ramadhan 1446H

Lebaran sudah datang lebih dulu di Makkah. Indonesia baru sehari setelahnya akan berlebaran. Hari baru saja berganti 3 menit lalu. Jadi bagiku ini adalah hari ke 30 Ramadhan. Ditengah tidur lelap tetiba suami menelfon, mengabarkan bahwa di sana sudah masuk hitungan 1 Syawal. Pengalaman pertama kami Lebaran Idul Fitri terpisah. Wajahnya menunjukkan kesedihan saat video call tadi. Dia memang berhati lembut. Juga penuh kasih sayang. Aku ya rindu juga, sedih juga, tapi juga bahagia untuknya sekaligus, bisa dapat kehormatan Itikaf 10 terakhir Ramadhan di Masjidil Haram itu luar biasa kan. Dan dia yang Allah berikan kesempatan terhormat itu. Aku bahagia untuknya. Sebenarnya sedihnya lebih dari sekedar Lebaran tanpa keluarga, tapi karena Ramadhan yang sudah berlalu. Atau ya memang campur aduk perasaan antara keduanya itu. Dalam panggilan telfon ya dia juga sempat menceritakan tentang tadabburnya di Quran surat Al-Baqarah ayat 66. Dalam kondisi setengah sadar aku mendengarnya membahas sekilas ...

Agar Kau Tak Kecewa

Hubungan yang terjalin saat kau berusaha rutin membaca Al-Qur’an, itu adalah hadiah. Saat ia menjelma menjadi hati yang semakin indah dan akhlak yang semakin baik, pastikan bahwa muara akhirnya tetap untuk Allah, pada Allah dan karena Allah saja. Kalau niat niat itu mulai melenceng, pastikan kau kemudikan lagi kembali pada tujuan satu-satunya. Agar tidak ada harap, kecewa, tujuan, selainnya. Kita sudah sama-sama memahami ini. Mari bertahan dalam pembuktian kesungguhan ini ya. Yang sabar. Yang kuat.

Janji yang Terlupakan

Memperhatikan pertumbuhan Abyan, anak bontot kau yang kini berusia 15 bulan. Melihat keceriaannya, dan dia yang sedang sering berceloteh dengan suara yang belum jelas, tawanya, langkah-langkah kecilnya yang belum teguh, senyumnya.. Pikiranku melayang.. Dia dan masa kecilnya, dia yang belum mengerti apa yang dilakukannya, dan dia yang pasti akan melupakan apa yang dia lakukan saat ini saat usianya mulai bertambah. Kapan manusia mulai bisa mengingat apa yang dilakukannya? Kita yang dewasa ini terkadang hanya bisa mengingat samar kejadian yang kita lakukan di usia 2 atau 3 tahun ke bawah. Bahkan di usia 4 pun mulai sulit mengingat tapi di 4 tahun sudah mulai ada ingatan meski samar akan masa yang sudah lewat. Aku perhatikan juga anak-anakku yang beranjak dewasa… Zahroh, Raihan, Sarah.. mereka dengan kenanganku yang bahkan samar pula akan masa kecil mereka. Kalau dengan bantuan foto atau video, atau tulisan yang aku niatkan untuk mengabadikan cerita, aku baru bisa dengan mudah mengingatnya...

Saat Kau Sakit

“Aku sakit.. Hatiku sakit. Akalku sakit. Semuaku sakit.” Katamu. Tapi saat kau ditunjukkan pada obatmu, kau berpaling. Menunda. Mencari obat selainnya. Karena katamu.. ”Aku tak mengerti bagaimana dia bisa mengobati sakitku.” Keberpalingan itu semakin jauh. Jarak yang kau bangun semakin lebar. Sampai kau lupa cara untuk kembali. Tidak usah kau pikirkan soal bagaimana dia mengobati. Tugasmu hanya minum saja obatmu. Jangan ditunda. Jangan tidak diminum. Biar Allah yang turun tangan mengobatimu dengan caraNya. Tugasmu bukan di situ, serahkan saja padaNya. Tugas kita hanya lakukan, lakukan, lakukan! Al-Isra - Ayat 82 وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا The Sabiq company: Dan Kami turunkan dari Al-Qur`ān (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur`ān itu) hanya akan menambah kerugian. Penawar yang kita butuhkan bagi jiwa yang hancur berkeping ini ada...

Hidayah yang Selalu Dibutuhkan

Diminta menyampaikan taujih singkat di masjid putri pesantren Husnul Khotimah ba’da Maghrib tadi. __________________ Apakah menjadi Islam berarti sudah cukup dan tidak butuh lagi hidayah? Bahkan sehari 17 kali kita berdoa meminta hidayah. Jalan menuju kebahagiaan menjadi seperti orang-orang yang diberikan nikmat. Ini sebuah pertanda, bahwa kebutuhan kita akan hidayah adalah kebutuhan PRIMER dan UTAMA. Hidayah apa? Petunjuk untuk menyadari betapa kita dicintai sama Allah arrahman arrahim Petunjuk untuk memahami ilmu yang didapat dan akhirnya berbuah menjadi akhlak yang baik dan mudah diamalkan Petunjuk untuk bisa mengenali semua maksud Allah atas semua pembelajaran yang diinginkannya untuk kita di setiap episode kihidupan kita Karena, saat Allah ga berikan kita hidayah… Bisa jadi alquran kita hafalkan tapi hati kita ditutup erat untuk memahami makna dan kemukjizatan nya yang akan mampu mengubah diri kita jadi luar biasa. Karena, saat Allah ga berikan kita hidayah… Bisa jadi kita ada di ...

Makna Hidup dan Pujian BagiNya

Hidup kita, kita yang memberinya makna dengan terus terhubung pada Yang Punya Kehidupan kita. Alhamdulillah 'ala kulli haal wa ni'mah. Semua hal itu adalah bangun tidur, nafas, bergerak, jantung berdetak, darah yang mengalir, sistem tubuh yang terus berjalan meski kita tidur, makanan, minuman, waktu, rumah, pakaian, indera, akal, hati, semuanya ini ya Allah alhamdulillah. Segala puji hanya bagiMu.

Perkataan yang Semoga Menjadi Doa

"Mba Nusaibah, hafalannya lancar banget..." Ucap Ustadzah Khofizah dengan senyum dan mata basah usai menyimak setoran hafalanku hari ini sebanyak 4 juz. Di juz 5 sampai juz 8. Hatiku seperti digedor oleh kesadaran. Betapa pujian itu tidak layak disematkan padaku. Karena aku tau, lancar maksimalnya biasanya saat mau ujian. Dalam penjagaan hariannya aku terus menerus mengulangnya memang, maka proses penggabungan ini tidak terlalu berat bagiku seperti sebelum-sebelumnya. Tapi masih saja di banyak tempat aku lupa. Dan ini menjadi reminder sekali untukku, agar lebih erat dan kuat lagi menggenggam ayat-ayat ini. Agar semakin lancar, paham, nempel, dan berbuat jadi akhlak lahir batin yang indah. Perkataan ustadzah Khofizah tadi cukup menjadi pelecut dan semoga menjadi doa yang tulus bagiku, aku harus lebih maksimal lagi menjaga diriku untuk terus terhubung dengan ayat-ayat Al-Qur'an ini.  Ya Allah, maafkan aku atas apa yang dia tidak ketahui, jangan hukum aku atas apa yang dia k...

Yakin yang Bertambah

Lebih dari sekedar retorika dan keindahan bahasa. Doa kita dalam shalat dan bacaan Al-Qur’an kita itu membutuhkan adanya real connection dengan Allah, yang padaNya segala doa terhaturkan. Yang dariNya segala tuntunan dalam Al-Qur’an tersandarkan. بسم الله الرحمٰن الرحيم Ini kalimat yang Allah ajarkan dan Allah tuliskan utuh bagi kita untuk terhubung dan menghubungkan semua aktivitas lahir dan batin kita padaNya. Bicara soal koneksi hati padaNya, aku tau di saat seperti apa dan bagaimana keterhubungan itu terjadi adanya. Kejadian 1 Saat aku memutuskan untuk menyerahkan diriku padaNya lewat bisik hati saat di atas motor yang dibonceng abi, dalam perjalanan kembali ke pesantren. Tapi efek langsungnya belum terasa seketika setelahnya. Kejadian 2 Di tengah semua rasa berat yang aku alami dalam hidupku. Mengadukan semuanya selepas shalat. Melepaskan amarah dan berbagai tanda tanya. Lalu aku memutuskan untuk menerima semuanya. Utuh. Bahkan berterimakasih dengan keseluruhan kondisi diriku. M...

Bahagia yang Aku Temukan Itu...

Bahagia dengan Al-Qur'an? Iya. Aku menemukannya, kebahagiaan itu, ada pada Al-Qur'an. Aku lupa bagaimana rasanya hati yang hampa. Karena hatiku terasa hidup saat aku terus menjaga diriku untuk terus terhubung dengan Al-Qur'an ini. Dan yang terjadi adalah kebalikannya. Saat aku putuskan untuk mencari kebahagiaan selain dari padanya, hampa dan gelisah hadir tanpa nanti dan tanpa tapi. Karena aku tau bagaimana rasa tidak nyamannya ada pada kondisi hati yang seperti itu, maka aku paksa diriku untuk terus mendekat. Aku berusaha untuk terus terjaga agar hatiku terus hidup dengan energi Al-Qur'an itu. Sangking tidak maunya lagi aku merasakan kehampaan yang begitu mengungkung jiwaku itu. Maka aku akan terus berusaha terhubung dengan Al-Qur'an dengan menyetel alarm qur'anku setiap 2 jam sekali dan 10 menit minimal interaksi setiap alarm itu berbunyi. Ya meskipun tidak semua waktu yang saat alarm itu berbunyi lalu aku akan langsung membacanya. Aku akui, memang godaan untu...

Sikap yang Aku Ambil Saat Kecewa

Urusan kecewa sama manusia, soal janji-janji yang ga ditepati, soal ga dianggap penting.. Aku lagi mau belajar dari sini. Rasanya ya ga nyaman banget. Padahal niat baik sudah ada. Bicara baik-baik sudah. Tapi tetap dianggap ga penting. Minimal informasi sih.. tapi bahkan info aja ga dapat. Apa itu namanya mempermainkan? Ya orangnya mah mungkin ga niat mempermainkan. Tapi bagi orang yang sudah berharap ya berasa sedang dipermainkan. Wajar ya kawan jadi lawan sebab yang begini begini ini. Titik permasalahannya di mana? Apa yang bisa dipelajari dan dijadikan pelajaran berharga untuk perbaikan kualitas hidup? Aku keinget satu ayat AlQur’an di surat Al-Anfal.. jangan khianati amanah yang diberikan kepadamu. Apa yang ada dalam kendali? Sapa. Beri kabar. Sampaikan kondisi. Seriusin. Semua orang yang menitipkan hartanya pada orang lain dengan tujuan sesuatu itu semua penting. Jangan dianggap remeh. Catat semua titipannya. Komitmen jaga sepenuh tanggung jawab. Beri informasi saat sedang tidak b...

Menghafal Al-Qur'an itu Bikin Sayang Sama Orang Tua

Saat muroja'ah hafalan Al-Qur'an aku sore ini, aku menikmati banget semua proses mengulang hafalan aku. Memang selalu ada rasa magis yang mengalir saat muroja'ah hafalan al-Qur'an dengan menikmati sampai ke tiap huruf yang dibacakan. Selalu begitu. Setiap kenangan yang ada bersama ayat mengirimkan banyak memori yang membersamainya. Juz yang aku ulang di sore ini juz 8 lanjut juz 2 dan juz 3. Saat mengulang ayat-ayat di juz awal itu aku teringat...ketika awal aku menghafal ayat demi ayat itu. Saat usiaku masih belum juga 10 tahun. Sekarang aku sudah memasuki saat aku akan berusia 34 tahun di Oktober nanti. Yang berarti aku sudah menghafal ayat ini dengan pengulangan bertahun-tahun. Kalau boleh aku menghitungnya, berarti sudah sekitar 24tahunan.  Batinku berkata, "Wah, sudah selama ini. Dan aku masih di sini!" Betapa baiknya Allah mengizinkan aku untuk masih ada di sini mengulang ayat yang sama, tapi dengan rasa yang semakin dalam. Juga pemahaman yang semakin da...