Aku Menyukai Apa yang Kau Pilihkan

 Tentang warna-warni takdir, cara Allah mendidik hati, dan perjalanan seorang hamba menuju keridhaan.

1 November 2026
22.30 WIB | Sebuah kamar di rumah kontrakan yang kami sebut bahagia.


Sepanjang hari ini, aku dipertemukan dengan begitu banyak hal yang seolah saling berkebalikan. Berbeda, berhadapan, bahkan terkadang terasa bertentangan. Namun, semuanya hadir dalam rentang waktu yang sama, di hadapan sepasang mata yang sama, dan mengetuk hati yang sama.

Sejak pagi, aku bergantian menjalani peran sebagai seseorang yang belajar dan seseorang yang mengajar. Sesaat aku duduk sebagai penerima ilmu, sesaat kemudian aku berdiri untuk membagikannya. Belajar, mengajar, kembali belajar, lalu kembali mengajar.

Di sela-selanya, kehidupan memperlihatkan wajah-wajahnya yang lain.

Aku menyaksikan bagaimana seseorang dapat menerima pujian, tetapi pada saat yang hampir bersamaan juga menjadi sasaran prasangka.

Aku melihat bagaimana kasih sayang seorang suami kepada istrinya dapat hadir dalam keluarga yang hidup dengan segala keterbatasan, sebagaimana ia juga dapat tumbuh dalam keluarga yang berkecukupan.

Namun, aku pun menyaksikan kebalikannya. Betapa kelapangan materi tidak selalu beriringan dengan kelapangan hati. Betapa seseorang dapat memiliki begitu banyak hal, tetapi gagal menghadirkan kepedulian kepada orang yang hidup bersamanya.

Ada yang hidup sederhana, tetapi begitu kaya dalam memperlakukan pasangannya. Ada pula yang hidup berkecukupan, tetapi menyisakan kesepian bagi orang terdekatnya.

Rupanya, kekayaan dan kekurangan tidak pernah benar-benar cukup untuk menjelaskan kebahagiaan seseorang.

Lalu, mataku kembali dipertemukan dengan cerita yang berbeda.

Tentang anak-anak yang hadir begitu mudah dalam kehidupan sebagian keluarga. Tentang pasangan lain yang harus melewati penantian panjang, ikhtiar yang melelahkan, dan doa-doa yang entah telah berapa kali dipanjatkan sebelum akhirnya menerima kabar kehamilan yang begitu dinantikan.

Aku melihat sebuah foto.

Sepasang manusia yang baru saja menerima kabar bahagia setelah bertahun-tahun berjuang. Wajah yang tampak sedang menahan tangis. Kebahagiaan yang barangkali tidak akan pernah sepenuhnya dapat dimengerti oleh mereka yang tidak pernah mengalami panjangnya penantian.

Pikiranku melayang.

Lagi.

Dan lagi.

Betapa beragamnya kehidupan manusia.

Ada yang menerima sesuatu tanpa pernah merasa harus memperjuangkannya dengan susah payah. Ada yang harus menempuh perjalanan begitu panjang untuk memperoleh hal yang sama.

Ada yang diberi kelapangan. Ada yang dicukupkan dalam keterbatasan. Ada yang sedang menikmati pertemuan. Ada yang harus belajar menerima perpisahan.

Dan aku, pada hari ini, seolah sedang diminta menyaksikan semuanya.

Belum selesai hatiku merenungkan itu, sebuah unggahan lain kembali menghentikan perhatianku.

Seorang istri membagikan foto kenangan bersama suaminya yang telah meninggal dunia.

Ia bercerita tentang mimpinya. Dalam mimpi itu, ia bertemu kembali dengan lelaki yang dahulu menemaninya menjalani kehidupan. Ia bertanya apakah suaminya masih merasakan sakit.

Dalam mimpi tersebut, sang suami menjawab bahwa dirinya sudah tidak sakit lagi.

Lalu, perempuan itu menutup ceritanya dengan doa.

Aku terdiam.

Ada orang yang hari ini sedang merayakan hadirnya kehidupan baru. Ada yang sedang menikmati kebersamaan dengan orang yang dicintainya. Ada pula yang hanya dapat menjumpai orang terkasih melalui kenangan dan mimpi.

Semuanya berlangsung di bumi yang sama.

Di bawah langit yang sama.

Dalam pengaturan Tuhan yang sama.

Dan entah mengapa, seluruh pemandangan itu terasa begitu dekat dengan hatiku malam ini.

Tidak Ada yang Luput dari Pengetahuan-Nya

Ya Allah…

Aku sedang menyaksikan begitu banyak warna kehidupan manusia.

Betapa Engkau berkehendak atas segala sesuatu, dengan ilmu dan hikmah yang tidak terbatas oleh sempitnya pengetahuan kami.

Aku percaya, tidak ada satu pun peristiwa yang luput dari pengetahuan-Mu. Tidak ada satu pun kehidupan yang terlepas dari pengaturan-Mu.

Namun, aku pun menyadari bahwa tidak semua yang kusaksikan mampu kupahami.

Aku tidak mengetahui seluruh alasan di balik sebuah pemberian. Aku tidak mengetahui seluruh hikmah di balik sebuah penundaan. Aku bahkan tidak benar-benar mengetahui apa yang sedang Engkau tumbuhkan dalam hati seseorang melalui kehidupan yang dijalaninya.

Aku hanya melihat sebagian kecil dari kisah yang jauh lebih besar.

Dan mungkin, di situlah aku perlu belajar menempatkan diri.

Sebagai hamba yang menyaksikan, bukan hakim yang berhak menyimpulkan segalanya.

Sebagai manusia yang berusaha memahami, bukan makhluk yang mampu menjangkau seluruh rahasia ketetapan-Nya.

Aku tidak sedang ingin mencocok-cocokkan setiap kejadian dengan kesimpulan yang kubuat sendiri.

Aku tidak ingin tergesa-gesa mengatakan bahwa yang menerima kemudahan pasti lebih dicintai, atau yang sedang menghadapi kesulitan pasti sedang menerima kemurkaan.

Tidak.

Aku hanya ingin menyimak kehidupan dengan hati yang masih dipengaruhi iman.

Hati yang percaya bahwa Engkau Maha Mengetahui, bahkan ketika aku tidak mengetahui.

Hati yang percaya bahwa Engkau Maha Bijaksana, bahkan ketika aku belum mampu menemukan hikmah di balik suatu peristiwa.

Dan hati yang terus belajar berbaik sangka kepada-Mu, tanpa merasa harus memahami seluruh ketetapan-Mu terlebih dahulu.

Ketika Kehidupan Menjadi Ruang Belajar

Aku semakin menyadari bahwa pengajaran-Mu tidak selalu hadir melalui sesuatu yang kubaca atau kudengar.

Terkadang, kehidupan itu sendiri menjadi ruang tempat aku belajar memahami petunjuk-Mu.

Al-Qur’an mengajarkan tentang kesabaran. Namun, ketika Engkau izinkan hadirnya peristiwa yang meluluhlantakkan hati, menguras tenaga, memenuhi pikiran dengan kekhawatiran, dan membuat langkah terasa begitu berat, aku mulai mengenal kesabaran dengan cara yang berbeda.

Bukan lagi sebatas kata yang kubaca.

Bukan lagi sebatas konsep yang kupahami.

Melainkan sesuatu yang harus kujalani, bahkan ketika seluruh diriku sedang ingin menyerah.

Aku belajar bahwa mengetahui makna sabar tidak selalu berarti telah mampu bersabar.

Bahwa memahami keutamaan tawakal tidak otomatis menjadikan hati mudah berserah.

Bahwa menghafal ayat-ayat tentang keteguhan tidak serta-merta membuat seseorang kebal terhadap rasa takut.

Ada jarak antara mengetahui dan menjadi.

Dan barangkali, sepanjang kehidupan inilah aku sedang belajar menempuh jarak itu.

Demikian pula ketika Engkau menghadirkan hari-hari yang penuh kenikmatan.

Ketika hati terasa lapang, ketika doa-doa menemukan jawabannya, ketika cinta hadir melalui manusia-manusia baik yang Engkau dekatkan, ketika rezeki datang dalam bentuk yang bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Di sanalah aku belajar tentang syukur.

Bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah, melainkan menyadari betapa tidak satu pun kenikmatan benar-benar lahir dari kemampuan diriku sendiri.

Betapa banyak hal yang selama ini tampak biasa, padahal sesungguhnya merupakan karunia yang luar biasa.

Kemampuan untuk berpikir.

Kesempatan untuk belajar.

Lisan yang masih dapat berbicara.

Ilmu yang masih dapat kubagikan.

Kesempatan untuk mengajar dan menerima pelajaran.

Keluarga yang menjadi tempat pulang.

Suami yang Engkau hadirkan dengan segala kebaikannya.

Iman yang masih Engkau pelihara.

Dan Al-Qur’an yang terus Engkau izinkan hadir dalam perjalanan hidupku.

Ya Allah…

Betapa banyak yang telah Engkau berikan.

Dan betapa sedikit yang benar-benar telah kusyukuri dengan sepantasnya.

Hati yang Kembali Dihidupkan

Malam ini, aku ingin berterima kasih kepada-Mu.

Bukan karena seluruh kehidupanku berjalan sebagaimana yang kuinginkan.

Bukan karena tidak ada lagi persoalan yang harus kuhadapi.

Bukan pula karena aku telah menjadi hamba yang mampu menerima segala sesuatu dengan sempurna.

Aku masih memiliki begitu banyak kekurangan.

Masih ada bagian dari diriku yang rapuh, mudah takut, tergesa-gesa, dan belum sepenuhnya mampu mengamalkan apa yang telah kuketahui.

Namun, di tengah segala kekurangan itu, aku merasakan sesuatu yang begitu berharga.

Hatiku masih dapat tersentuh.

Masih dapat menangis.

Masih dapat merasa kecil di hadapan-Mu.

Masih dapat mengenali betapa besar kebutuhanku kepada-Mu.

Dan setelah sekian lama ada bagian-bagian hati yang terasa mengeras, aku mulai merasakan bagaimana Engkau mengizinkannya kembali hidup.

Aku membayangkan hatiku seperti sebidang tanah yang lama mengering.

Keras.

Retak.

Sulit menerima apa pun yang hendak ditumbuhkan di atasnya.

Lalu datanglah berbagai peristiwa kehidupan.

Ada yang mengguncang. Ada yang menyakitkan. Ada yang membuatku harus menggali kembali bagian terdalam dari diriku sendiri.

Seperti cangkul yang berkali-kali menghantam tanah keras, berbagai persoalan itu membuka lapisan-lapisan hati yang sebelumnya begitu sulit disentuh.

Tidak selalu menyenangkan.

Bahkan sering kali terasa menyakitkan.

Namun, melalui semua itu, aku mulai mengenali bagian-bagian diriku yang selama ini membutuhkan perbaikan.

Kemudian datanglah hujan rahmat-Mu.

Melalui ayat-ayat yang kembali menyentuh.

Melalui nasihat yang tiba pada saat yang tepat.

Melalui manusia-manusia yang Engkau pertemukan.

Melalui kesempatan untuk kembali belajar, mengajar, mengingat, dan mendekat kepada-Mu.

Tanah yang semula keras itu perlahan mulai basah.

Dan di dalamnya, aku berharap benih-benih iman kembali menemukan tempat untuk bertumbuh.

Aku tidak berani mengatakan bahwa seluruh kesulitan yang kualami telah berhasil kupahami hikmahnya.

Tetapi aku bersyukur karena melalui sebagian darinya, Engkau mengizinkanku kembali mengenali-Mu.

Terima kasih, ya Allah.

Atas hati yang masih dapat Engkau lembutkan.

Atas iman yang masih Engkau izinkan bertahan.

Atas setiap kesempatan untuk kembali, bahkan setelah berkali-kali aku menjauh.

Engkau Teramat Layak

Semakin aku merenungkan kehidupan, semakin aku menyadari betapa Engkau teramat layak menerima seluruh penghambaan kami.

Bukan hanya ketika Engkau memberi apa yang kami inginkan.

Bukan hanya ketika kehidupan terasa mudah.

Bukan hanya ketika doa-doa kami dikabulkan dengan cara yang kami harapkan.

Engkau tetap layak disembah ketika kami harus menunggu.

Ketika kami kehilangan.

Ketika kami tidak mengerti.

Ketika kami menangis di hadapan ketetapan yang belum sanggup kami pahami.

Sebab kemuliaan-Mu tidak bergantung pada keadaan hidup kami.

Dan keagungan-Mu tidak berkurang hanya karena keterbatasan kami dalam memahami kehendak-Mu.

Engkau teramat layak menjadi satu-satunya yang menempati kedudukan tertinggi dalam hati kami.

Dalam kehidupan kami.

Dalam segala keputusan, harapan, ketakutan, dan cinta kami.

Bahkan hingga kematian kami.

Hanya Engkau yang layak.

Ya Allah…

Malam ini aku datang kepada-Mu dengan hati yang dipenuhi rasa syukur sekaligus harap.

Ada cinta, tetapi juga rasa takut.

Ada ketenangan, tetapi juga kecemasan akan kekurangan diriku sendiri.

Ada kerinduan untuk menjadi hamba yang lebih baik, bersamaan dengan kesadaran betapa jauhnya diriku dari kesempurnaan penghambaan.

Inilah aku, ya Allah.

Dengan seluruh kehidupan yang Engkau titipkan.

Dengan segala yang ada padaku.

Dengan seluruh amal yang masih sedikit, niat yang masih harus terus diluruskan, dan hati yang masih membutuhkan begitu banyak penjagaan.

Inilah persembahanku.

Masih sesederhana ini.

Masih sejauh ini kemampuanku.

Namun, aku berharap Engkau berkenan menerimanya, memperbaikinya, dan menuntunku untuk terus bertumbuh dalam ketaatan.

Aku Menyukai Apa yang Kau Pilihkan

Terima kasih, ya Allah.

Atas segala karunia yang telah kukenali, dan yang bahkan belum kusadari.

Atas penjagaan-Mu yang tidak selalu terlihat.

Atas pertolongan-Mu yang terkadang baru kupahami setelah suatu peristiwa berlalu.

Atas Al-Qur’an, yang terus mengingatkanku kepada siapa aku harus kembali.

Atas kesempatan untuk hidup, berpikir, mencintai, belajar, berbagi, dan mengabdi.

Atas segala alur cerita yang telah Engkau izinkan menjadi bagian dari kehidupanku.

Terima kasih karena Engkau adalah Tuhanku.

Dan tidak ada karunia yang lebih besar daripada diizinkan mengenal-Mu, beriman kepada-Mu, dan berharap dapat kembali kepada-Mu dalam keadaan Engkau ridhai.

Aku ingin belajar menyukai apa yang Engkau pilihkan untuk hidupku.

Bukan berarti seluruh pilihan itu akan selalu terasa mudah.

Bukan berarti aku tidak akan lagi menangis, takut, kecewa, atau merasa lelah.

Aku mungkin masih akan mengalami semuanya.

Tetapi aku ingin agar rasa sakit tidak menjauhkanku dari-Mu.

Agar kenikmatan tidak membuatku melupakan-Mu.

Agar penantian tidak merusak prasangka baikku kepada-Mu.

Dan agar setiap keadaan, apa pun bentuknya, dapat menjadi jalan yang semakin mendekatkanku kepada-Mu.

Aku ingin mencintai apa yang Engkau cintai.

Dan belajar menjauhi apa yang Engkau benci.

Aku ingin menerima bagian takdirku tanpa berhenti memperbaiki diri, tanpa meninggalkan ikhtiar, dan tanpa kehilangan harapan terhadap rahmat-Mu.

Sebab kini aku semakin memahami bahwa ridha bukan berarti selalu mengerti.

Ridha bukan berarti tidak pernah terluka.

Ridha adalah ketika hati, di tengah segala keterbatasannya, terus memilih kembali kepada Allah.

Dan malam ini, setelah menyaksikan begitu banyak warna kehidupan manusia, aku ingin menutup hariku dengan satu pengakuan yang sederhana.

Aku ridha Allah sebagai Tuhanku.

Aku ridha Islam sebagai agamaku.

Aku ridha Muhammad ﷺ sebagai nabi dan rasulku.

Dan aku memohon kepada-Mu, ya Allah, agar keridhaan ini bukan hanya menjadi kalimat yang indah ketika dituliskan, melainkan menjadi kebenaran yang hidup dalam setiap keadaan yang kelak harus kujalani.

Sebab pada akhirnya, bukan kehidupan tanpa luka yang paling kuinginkan.

Melainkan hati yang tetap mengenal-Mu, mencintai-Mu, dan kembali kepada-Mu, apa pun yang terjadi dalam kehidupanku.

Aku menyukai apa yang Kau pilihkan, ya Allah.

Dan untuk segala hal yang belum mampu kuterima dengan lapang, ajarilah hatiku untuk terus belajar ridha.

Aamiin.


Nusaibah Azzahra
Pori, 1 November 2026


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antar Ukhuwah dan Pacaran